KNKT SAMPAIKAN HASIL REVIEW MITIGASI RISIKO KESELAMATAN LAYANAN TRANSJAKARTA
JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam Kegiatan Evaluasi dan Pendampingan Peningkatan Keselamatan di Operasional PT Transportasi Jakarta menyampaikan hasil review terhadap aspek keselamatan layanan Transjakarta yang mencakup unsur awak kendaraan, lintasan perjalanan, prasarana, serta armada. Review ini dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan keselamatan operasional transportasi umum di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Dalam paparan yang diberikan, Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa keselamatan transportasi harus dibangun melalui pengelolaan risiko yang berkelanjutan. “Sejalan dengan filosofi keselamatan yang disampaikan dalam kajian tersebut, setiap potensi bahaya perlu diidentifikasi sejak dini agar tidak berkembang menjadi kecelakaan atau gangguan operasional.”, ujarnya.
Pada aspek awak kendaraan, KNKT menemukan sejumlah hal yang memerlukan perhatian, mulai dari proses rekrutmen, pemeriksaan kesehatan, pengelolaan kelelahan, hingga sistem pelatihan pramudi. Hasil review menunjukkan masih terdapat perbedaan penerapan standar rekrutmen antar operator, termasuk pelaksanaan psikotes dan pemeriksaan kesehatan calon pramudi. Selain itu, pelaksanaan pemeriksaan kesehatan berkala dan pengelolaan data kesehatan pramudi dinilai belum sepenuhnya terintegrasi.
KNKT merekomendasikan penyusunan basis data pramudi secara terpusat, standardisasi pemeriksaan kesehatan, penguatan sistem fit to work, serta pengembangan sistem pemantauan kesehatan yang dapat mendukung penugasan pramudi sesuai kondisi kesehatannya.
Dari sisi kompetensi, KNKT menilai perlunya kalender pelatihan tahunan yang terkoordinasi, penyamaan standar materi pelatihan antar operator, serta sistem evaluasi kompetensi yang terukur dan berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga dan meningkatkan kemampuan pramudi dalam menghadapi berbagai kondisi operasional di lapangan.
Pada aspek lintasan perjalanan, review menemukan bahwa pemanfaatan Route Hazard Mapping yang telah disusun masih perlu ditingkatkan. KNKT merekomendasikan sosialisasi berkala kepada pramudi, pembaruan data bahaya di sepanjang rute, serta pengembangan sistem komunikasi yang lebih efektif antara ruang kontrol dan armada di lapangan. Pengelolaan risiko lintasan juga perlu didukung dengan pemetaan lokasi yang memiliki riwayat kecelakaan dan penempatan fasilitas keselamatan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing rute.
Sementara itu, pada aspek prasarana, KNKT mengidentifikasi sejumlah kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko operasional, antara lain geometri halte yang menyulitkan manuver kendaraan, jarak antara peron dan bus yang melebihi standar pada lokasi tertentu, potensi konflik pergerakan bus saat keluar dan masuk halte, serta beberapa fasilitas halte dan bus stop yang memerlukan penyesuaian dari sisi keselamatan. Untuk itu, KNKT merekomendasikan evaluasi desain halte, penyesuaian jenis armada dengan kondisi lintasan dan halte yang dilayani, serta peninjauan kembali fasilitas pendukung seperti rambu, marka, dan aksesibilitas bagi pengguna layanan.
Review juga mencakup aspek pemeliharaan armada, khususnya bus listrik yang dioperasikan dalam layanan Transjakarta. KNKT menemukan sejumlah temuan signifikan terkait dokumentasi teknis, sistem pemeliharaan, kompetensi mekanik, hingga kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di lingkungan workshop. Beberapa dokumen teknis masih tersedia dalam bahasa asing dan belum seluruhnya didukung dengan prosedur kerja yang komprehensif maupun sistem pemantauan pemeliharaan yang terintegrasi.
Selain itu, KNKT menilai perlunya penguatan program pemeliharaan berbasis analisis data, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penyusunan prosedur tanggap darurat yang lebih lengkap untuk mendukung keselamatan operasional armada listrik. Evaluasi berkala terhadap hasil perawatan kendaraan juga dinilai penting agar langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan.
Hasil review ini dimaksudkan untuk memberikan masukan bagi penyelenggara dan operator layanan dalam meningkatkan sistem keselamatan secara menyeluruh. “Melalui penerapan rekomendasi yang telah diidentifikasi, diharapkan risiko operasional dapat dikendalikan dengan lebih baik dan keselamatan pengguna maupun petugas layanan dapat terus ditingkatkan.”, tutup Soerjanto.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi menegaskan bahwa keselamatan merupakan proses yang harus dijaga secara konsisten melalui identifikasi bahaya, pengelolaan risiko, pengawasan pelaksanaan standar, serta perbaikan berkelanjutan di seluruh aspek operasional transportasi.